Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

Jakarta, CNBC  Indonesia –  Sesudah 2 tahun berlalu, harga bitcoin akhirnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa lagi di pekan ini. Tak sekedar mencetak rekor, harga bitcoin juga meroket mengalahkan kenaikan aset-aset lain, baik itu aset berisiko (saham) dan aset aman atau safe haven seperti emas.

Melansir data Refinitiv , pada Selasa (1/12/2020) cerai-berai, bitcoin mencetak rekor termahal sepanjang sejarah US$ 19. 929, 75/BTC, melewati rekor sebelumnya US$ 19. 458, 19/BTC yang dicapai dalam Desember 2017 lalu.


Setelah mencapai rekor pada Desember 2017, harga bitcoin ambrol 80% setahun berselang. Tingginya volatilitas tersebut membuat aset itu dianggap berisiko tinggi, tetapi di sisi lain ada yang menganggap sebagai emas digital, 2 hal yang berlawanan tentunya.

Di luar kontradiksi tersebut, bitcoin sekali lagi menunjukkan kinerja cemerlang di tahun ini. Dibandingkan dibanding posisi akhir tahun lalu tenggat saat ini atau secara year-to-date (YtD), bitcoin meroket 154, 88%, sekitar 6 kali lipat dari kenaikan emas, dan 8 kali lipat dari kenaikan indeks S& P 500.

Baik emas maupun indeks S& P 500 juga mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di tarikh ini, tetapi sepanjang tahun tersebut emas “hanya” membukukan penguatan 25, 91%, dan S& P 500 “cuma” menguat 17, 59%.

Selain pandemi penyakit virus corona (Covid-19), salah satu pemicu kenaikan bitcoin di tahun ini adalah banyaknya investor institusional yang mulai masuk. Hal tersebut berlaku karena bitcoin dianggap semakin mature, dan volatiltasnya akan semakin menurun.

Masuknya investor institusional ke bitcoin menjadi kabar elok, sebab mereka akan cenderung membekukan posisinya dalam waktu yang cukup lama, sehingga volatilitas bitcoin mau semakin menurun.

Melihat pandangan bitcoin sebagai emas digital, menurut bank investasi JP Morgan, investor emas dan bitcoin ternyata berbeda. Investor bitcoin didominasi sebab millennial, sementara emas kaum dengan lebih berumur.

“Dua kelompok menunjukkan perbedaan dalam preferensi untuk mata uang ‘alternatif’. Golongan yang lebih tua memilih emas, sementara kelompok muda memilih bitcoin, ” kata analis JP Morgan yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou di dalam sebuah catatan yang dikutip Kitco, Selasa (18/8/2020).

Preferensi emas dan bitcoin sebagai alternatif berdampak pada korelasi kedua kekayaan tersebut menjadi lebih positif. Artinya keduanya bergerak searah, ketika aurum menguat, bitcoin juga akan terangkat. Menurut JP Morgan, hal tersebut terjadi karena millennial di AS melihat bitcoin sebagai uang ‘alternatif’ untuk dolar AS.

“Aliran modal simultan telah menjadikan perubahan pola korelasi antara bitcoin dengan aset lainnya, menjadi bertambah positif antara bitcoin dan aurum, tetapi juga antara bitcoin secara dolar karena milennial di GANDAR melihat bitcoin sebagai uang ‘alternatif’ untuk dolar AS, ” kata pendahuluan Panigirtzoglou.

Sementara tersebut hasil survei, deVere Group, kongsi financial advisory independen dan fintech, terhadap 700 lebih millennial di berbagai negara, sebanyak 67% menyatakan mereka memilih bitcoin sebagai substansi safe haven ketimbang emas.

Millenial akan menjadi pokok penting bagi masa depan bitcoin, sebab berdasarkan hasil survei DeVere, akan ada transfer kekayaan mengiringi generasi yang besar. Berdasarkan estimasi, transfer kekayaan tersebut mencapai US$ 60 triliun dari generasi baby boomers ke millennial.

Artinya, dengan millennial lebih memilih bitcoin sebagai safe haven ketimbang aurum, ketika transfer kekayaan terjadi tentunya investasi ke bitcoin kemungkinan hendak lebih besar lagi.

Halaman 2 > >