Jakarta, CNBC Indonesia – Pekan ini rupiah bertahan di jalur hijau, atau membalik posisi sepekan sebelumnya yang melemah. Keputusan Bank Nusantara (BI) mempertahankan suku bunga pola menjadi “stimulus” penguatan Mata Kekayaan Garuda.

Berbeda dari pekan lalu di mana rupiah melemah 0, 81% atau 40 poin ke Rp 14. 860 per dolar Amerika Serikat (AS), pekan tersebut Mata Uang Garuda bangkit dengan mencatatkan penguatan sebesar 0, 87% secara mingguan ke level Rp 14. 730 per dolar GANDAR.

Secara umum, apresiasi rupiah terjadi secara konsisten, dengan hanya mengalami pergerakan menyamping pada Senin. Penguatan terbesar terjadi pada Jumat, setelah Bank Indonesia (BI) menahan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 4%.


Ketika suku bunga ditahan, imbal hasil ( yield ) aset investasi Nusantara pun membagikan keuntungan lebih mulia dari negara lain sehingga investor global masuk dan menukarkan dolar mereka ke rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pihaknya mempertahankan suku bunga acuan pada September ini dengan mempertimbangkan banyak hal mulai dari inflasi hingga bentuk keuangan baik di domestik maupun global.

“Keputusan ini mempertimbangkan perlunya menggembala stabilitas nilai tukar Rupiah, dalam tengah inflasi yang diperkirakan langgeng rendah, ” ujar Perry melalui konferensi pers virtual, pada Kamis (17/9/2020).

Meski sedang menguat, sentimen investor asing malah berbalik. Survei dua mingguan terbaru yang dirilis Reuters menunjukkan investor kembali mengambil kedudukan jual ( short ) terhadap rupiah, setelah mengambil posisi beli ( long ) pada survei sebelumnya.

Dengan kata lain, posisi beli-yang merupakan pertama setelah posisi jual pada 4 survei beruntun-bakal cepat berakhir. Investor cenderung menghitung ulang dampak kebijakan moneter tersebut di dalam jangka panjang, di mana Indonesia yang dibayangi resesi sedang menggunakan suntikan stimulus ekstra, salah satunya dari suku bunga yang kecil.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]
(ags/ags)