Jakarta, CNBC Indonesia –   Hasil riset Pew Research Center pada 2019 mencatat 70% orang dewasa di Amerika Serikat beringsut menggunakan Facebook untuk mendapatkan informasi.

Mengutip CNBC Universal pada Minggu (20/9/2020), basis pengguna yang besar ini menandakan kalau Facebook memiliki pengaruh besar kepada demokrasi masyarakat. Hal ini terbukti pada pemilihan presiden 2016.

Sejak 2017, Facebook sudah menghapus lebih dari 100 jaringan yang terlibat dalam perilaku seolah-olah organisasi pemberitaan palsu Rusia, Peace Data.


Facebook membicarakan saat ini pihaknya bekerja dengan 70 mitra untuk memeriksa bukti pihak ketiga dan semakin meningkatkan transparansi iklannya.

Tetapi, tahun ini diperkirakan akan sangat berbeda dibanding dengan 2016. Apalagi di tengah pandemi, di mana pengguna sosial media yang terus meningkat jumlahnya.

Penggunaan media sosial yang didirikan Mark Zuckerberg ini menjadi media baik dengan pengguna aktif terbesar dalam dunia, di mana hingga kuartal II-2020 pengguna aktif harian di seluruh dunia mencapai 1, 78 miliar pengguna per hari.

Sementara itu, Facebook mau melakukan tiga hal sebagai jalan dalam menghindari manipulasi saat persuasi pemilihan Presiden AS yang bakal berlangsung pada akhir tahun itu, yaitu dengan cara mencegah intervensi pihak luar, meningkatkan transparansi & mengurangi kesalahan informasi.

“Kami akan mempercepat respon kami, dan membuat respon itu menjadi lebih efektif, ” ujar Head of Cybersecurity Policy Facebook Nathaniel Gleicher seperti dikutip dari CNBC Internasional.

Selanjutnya, Vice President of Global Affairs and Communications Facebook Nick Clegg mengucapkan terkait iklan yang ada dalam Facebook, iklan-iklan itu akan meresap ke dalam “Ad library”.

“Itu akan menjadi bertambah transparan daripada iklan di TV dan Radio, karena di Ad Library bisa melihat siapa yang beriklan dan ditayangkan kepada sapa, ” ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]
(wia)