Jakarta, CNBC  Indonesia kepala Kejaksaan Agung (Kejagung) menyebutkan PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha  atau WanaArtha Life sudah mengalami patah pucuk bayar kepada nasabah  sejak Oktober 2019, sebelum Kejagung melakukan penyidikan perkara PT Asuransi Jiwasraya (Jiwasraya) pada Desember 2019.

Penyidikan Jiwasraya tersebut akhirnya berujung pada pemblokiran sekitar 800 sub rekening efek (SRE) saham dan penyitaan aset terkait dengan jalan penyelidikan kasus Jiwasraya, yang pula menyeret rekening efek milik WanaArtha Life.

“Kami informasikan, nanti saya sampaikan berita pada Pak Rano [anggota DPR Komisi III, Rano Alfath]  bahwa di bulan Oktober [2019] sebetulnya Wanaartha sudah rusak bayar kepada nasabahnya. Nanti hamba sampaikan pak pembuktiannya, ” tegas  Jaksa Agung Muda Pidana Istimewa Kejagung Ali Mukartono,   pada Rapat Kerja dengan Komisi III DPR RI secara virtual, Kamis (24/9/2020).


“Jangan datang gagal bayarnya di sana [Oktober 2019] kemudian digeser-geser menjadi tanggung jawab Kejaksaan, ” katanya.

“Karena Kejaksaan baru melakukan penyidikan tentang ini di akhir Desember 2019, di akhir Desember. Ini kita harapkan pihak kejujuran dari direksi Wanaartha, ” tegasnya lagi.

Hingga saat ini  Yanes Y Matulatuwa selaku Presiden Direktur Wanaartha  belum merespons pertanyaan CNBC  Indonesia soal kondisi keuangan kongsi di tengah pemblokiran rekening efek nasabah ini.

Pada kesempatan itu, Ali juga menjelaskan duduk perkara soal pemblokiran sekitar 800 sub rekening efek (SRE) saham dan penyitaan aset terkait dkasus Jiwasraya dan menyeret Wanaartha.

Pemblokiran tersebut berujung pada aksi protes para nasabah Wanaartha yang turun ke berkepanjangan, bahkan sampai mengirim surat awal blokir rekening efek kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ali  mengatakan pihaknya tidak pernah menyita uang  para nasabah Wanaartha.

“Kami tegaskan abu sebagaimana dalam Panja [Rapat Panitia Kerja] terdahulu bahwa Kejaksaan tak pernah menyita uangnya nasabah Wanaartha. Yang disita oleh Kejaksaan adalah saham atau reksa dananya Benny Tjokro yang ada di Wanaartha, ” katanya.

Benny Tjokro atau Benny Tjokrosaputro (Bentjok) adalah Direktur Utama PT Hanson International Tbk (MYRX), satu dari enam terdakwa kasus dugaan tindak pidana korupsi Jiwasraya.

Lima lainnya yakni Heru Hidayat; Komisaris Utama PT Trada Kawasan Minera Tbk (TRAM), Joko Hartono Tirto; Direktur PT Maxima Integra, Hendrisman Rahim; Direktur Utama Jiwasraya periode 2008-2018, Hary Prasetyo; Penasihat Keuangan Jiwasraya periode Januari 2013-2018, dan Syahmirwan; mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya.

Ali mengisbatkan pihak Wanaartha tidak bisa menunjukkan soal status rekening apakah berselirat dengan Jiwasraya atau tidak.

“Setelah demo dari bagian nasabah Wanaartha, oleh pihak Wanaartha sudah dilakukan pembicaraan dengan para-para pemegang polis itu menyatakan kejaksaan tidak salah menyita semacam itu, ” jelasnya.

“Namun demikian kami masih membuka apakah, sejauh mana, karena tersedia dorongan dari Pak Presiden [Jokowi] dan sebagainya ada karena pengaduan ke Pak Kepala dari nasabahnya Wanaartha ini, ” tegasnya.

Ali mengatakan manajemen Wanaartha sudah dipanggil untuk menjelaskan persoalan tersebut.

“Direkturnya sudah saya panggil. Nah karena direkturnya tak mengerti transaksi yang ada di dalamnya kami minta yang mengetahui dari pihak Wanaartha supaya hadir ke kejaksaan untuk membuktikan sumber uang itu. ”

“Tetapi sampai sekarang pihak Wanaartha tidak pernah muncul, ” tegas Ali.

Pada Selasa lalu, pemegang polis Wanaartha menuntut agar Kejagung segera membuka sub rekening efek (SRE) yang sebelumnya diblokir sebagai buntut penyelidikan kasus Jiwasraya.

Nasabah WanaArtha menggelar aksi damai serentak di lima kota, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Kediri, serta Palembang.

WanaArtha Life adalah salah satu asuransi jiwa anggota Asosiasi Asuransi Rohani Indonesia (AAJI) dan berdiri sejak tahun 1974.

Sebelumnya Kejagung sudah memblokir sekitar 800 sub rekening buah karena seluruhnya terkait dengan sangkaan korupsi Jiwasraya.

Dalam Hak Jawab kepada CNBC  Indonesia, 14 Februari 2020, ketika berita gagal bayar mencuat, manajemen Wanaartha  membantah bubar bayar.

Pasalnya, perseroan mengaku tidak mengalami gagal bayar dan bisa menyelesaikan klaim konsumen. Hanya saja, perseroan menunggu untuk blokir rekening dibuka.

“WanaArtha Life tidak memiliki hubungan apapun dengan Jiwasraya. Hal ini telah kami sampaikan kepada Kejaksaan Agung RI bilamana direksi kami memberikan keterangan sebagai saksi, ” kata Y anes Y Matulatuwa, dalam surat tersebut.

“WanaArtha Life selama 45 tahun berdiri tidak pernah gagal bayar, dan selama lima tahun terakhir kami telah membayarkan total klaim sebesar Rp 37 triliun kepada nasabah dan mempunyai Risk Based Capital sebesar hampir 240%. ”

“Kami melakukan penundaan pembayaran dan Roll Over dikarenakan rekening kami diblokir oleh regulator sehubungan dengan adanya pemeriksaan yang dilakukan Kejaksaan Mulia. Seperti yang telah dikemukakan sebab Kejaksaan Agung, ada 800 bon dan 137 perusahaan yang diblokir, ” katanya.

Dia mengatakan gagal bayar adalah ketidakmampuan membayar, sedangkan perseroan  melakukan janji pembayaran dan akan segera menyelenggarakan pembayaran kepada nasabah segera menutup rekening dibuka.

[Gambas:Video CNBC]
(tas/tas)