Dapatkan promo member baru Pengeluaran SGP 2020 – 2021.

Jakarta, CNBC Indonesia –  Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. merosot pada perdagangan Kamis (10/12/2020) hingga ke bawah Rp 900. 000/gram. Harga emas negeri yang turun pada perdagangan Rabu waktu setempat turut menyeret mendarat emas Antam.

Melansir data dari situs resmi hak PT Antam, logammulia. com , emas satuan 100 gram yang biasa menjadi teladan ambrol 1, 1% ke Rp 89. 812. 000/batang atau Rp 898. 120/gram.
Sementara itu emas Antam satuan 1 gram dibanderol Rp 956. 000/batang, terban 1, 04% dibandingkan harga Selasa lalu. Sepanjang pekan lalu, maka Selasa (8/12/2020), logam mulia ini melesat 2, 55%.


Harga emas dunia pada perdagangan Rabu kemarin ambrol hingga 1, 72% ke US$ 1. 839, 11/troy ons. Ambrolnya harga emas terjadi akibat pembahasan stimulus fiskal di Amerika Serikat (AS) yang masih belum tersedia titik terang. Padahal banyak yang berharap stimulus tersebut bisa berhenti di pekan ini.

Stimulus fiskal serta stimulus moneter merupakan bahan bakar bagi emas untuk menanjak. Sehingga belum pastinya kapan stimulus tersebut akan berhenti membuat emas merosot setelah mencetak penguatan dalam 5 dari enam perdagangan sebelumnya.

Selain itu, belum pastinya stimulus fiskal membuat bursa saham AS serupa merosot kemarin, alhasil dolar GANDAR yang selama ini tertekan kembali naik. Indeks dolar AS kemarin menguat 0, 13% ke 91, 087.

Indeks dengan mengukur kekuatan dolar AS tersebut bahkan sudah menguat 3 keadaan beruntun meski tipis-tipis. Total pengukuhan selama periode tersebut sebesar 0, 43%, setelah merosot 1, 2% pada pekan lalu dan mengenai level terendah dalam 2, 5 tahun terakhir.

Kemajuan indeks dolar tersebut juga menekan harga emas. Emas dibanderol secara dolar AS, saat the greenback menguat, maka harga emas akan lebih mahal bagi pemegang timbil uang lainnya, sehingga permintaan berisiko menurun.  

Biar demikian, ke depannya dolar GANDAR diprediksi masih akan melemah, bahkan hingga 2 tahun ke ajaran.

Hasil survei terbaru dari Reuters terhadap 72 analis menunjukkan, sebanyak 39% memprediksi dolar AS akan melemah hingga dua tahun ke depan. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan dugaan lainnya. Sebanyak 10% bahkan memperkirakan dolar AS masih akan menyurut lebih dari 2 tahun ke depan.

Sementara tersebut, 15% melihat pelemahan dolar AS hanya akan berlangsung kurang lantaran 3 bulan dan setelahnya berangkat bangkit. 14% meramal pelemahan berlangsung kurang dari 6 bulan, & 22% lainnya kurang dari 1 tahun.

Artinya, seluruh analis memprediksi dolar AS masih akan melemah, setidaknya hingga 3 bulan ke depan. Sehingga lagu terhadap emas akan berkurang, bahkan berpeluang naik kembali.

TIM PENELITIAN CNBC  INDONESIA 

[Gambas:Video CNBC]
(pap/pap)