Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah Indonesia kembali memiliki cibiran terkait utang. Tak asing, cibiran datang dari ekonom Rizal Ramli.

Eks Menko Kemaritiman di pemerintahan Presiden Jokowi periode I menyatakan utang pemerintah semakin menumpuk dan parah. Dia pun menyebut Indonesia sebagai pengemis utang.

Pernyataan Rizal Ramli tersebut langsung dibantah oleh Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo. Menurutnya, utang saat tersebut diperlukan untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.

Sebab, penerimaan dari pajak masih tertekan karena dunia usaha dengan juga terdampak Covid-19. Disatu sisi pemerintah harus tetap melindungi umum sehingga utang menjadi keharusan.

Namun, ia memastikan bahwa bunga utang tak semakin tinggi, justru turun dipadankan awal tahun ini. Oleh karenanya, ia menilai pernyataan tersebut tidak berasalan.

“Tuduhan Pak RR tidak terbukti, bunga utang atau yield justru turun, lantaran 7. 03% di awal tahun menjadi 6, 15% di November, ” ujarnya kepada CNBC Nusantara.

Terkait pinjaman pemberian yang baru saja didapatkan didapatkan dari Jerman dan Australia dinilai sebagai simbol kemitraan dan silaturahmi kedua negara tersebut untuk menanggung Indonesia menghadapi masa sulit itu.

Lanjutnya, bunga dengan diberikan kedua negara tersebut biar sangat rendah dengan tenor dengan panjang.

“Maka pemerintah Indonesia berkomitmen menjaga persahabatan serta komitmen, ” tegasnya.

Diketahui, melalui media sosial twitternya, Rizal Ramli lagi-lagi mencibir negeri karena utang yang dinilai semakin menumpuk.

“Mas @jokowi, mau dibawa kemana RI? Surat utang bunganya semakin mahal. Untuk bayar bunga utang saja, harus ngutang lagi. Makin parah. Makanya mulai ganti strategi jadi “pengemis utang bilateral” dari satu negara ke negara lain, itupun dapatnya recehan itu yg bikin ‘shock’, ” ujarnya yang dikutip Jumat (20/11/2020).

Adapun utang RI per akhir September 2020, tercatat Rp 5. 756, 87 triliun atau 36, 41% daripada Produk Domestik Bruto (PDB).



[Gambas:Video CNBC]
(dru)