Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Energi Rusia Alexander Novak  mengatakan  harga minyak hanya akan pulih sedikit pada tahun 2021. Hal itu dikarenakan hanya ada perubahan yang moderat di dalam permintaan pasar dan perilaku usaha serta orang-orang akibat pandemi virus corona (Covid-19).

“Perkiraan saya untuk tarikh 2021 sedikit lebih sederhana daripada perkiraan Goldman Sachs. Saya memperhitungkan kisaran US$ 50- US$ 55 per barel, sebagai harga rata-rata untuk tahun ini. Tapi kita bisa mengharapkan volatilitas di pasar, baik turun maupun naik, ” katanya kepada Hadley Gamble dari CNBC International, akhir pekan kemarin.


“Pemulihan di masa depan akan jauh lebih lambat, ” tambah Novak. “Bukan tren cepat yang saya amati dalam beberapa bulan perdana. Terutama karena transformasi keseluruhan dan perubahan dalam keseimbangan energi serta pola perilaku konsumen, yang baru dan terpenting. ”

Goldman Sachs minggu lalu menerbitkan catatan yang memprediksi harga patokan internasional minyak mentah Brent pada US$ 65 bohlam barel pada kuartal ketiga tahun depan, di mana akan tersedia kenaikan lebih jauh hingga 2021 karena persediaan mulai normal serta pasar minyak mulai mengalami kebobrokan pada musim panas mendatang, sekapur lembaga itu.

Lebih lanjut, Novak mengucapkan ada beberapa alasan mendasar kok ia memprediksikan harga minyak akan moderat. Pertama yaitu penurunan penjelajahan bisnis. Selain itu, ada pula perubahan gaya hidup di mana kegiatan mulai dilakukan dari jarak jauh, seperti mengadakan konferensi online dan bekerja dari rumah (WFH). Semua itu mengurangi volume penjelajahan dan karenanya mempengaruhi permintaan patra, jelasnya.

“Ini jelas mengubah keseimbangan gaya dan akan berdampak pada pemulihan permintaan, ” katanya. “Kami mau berproduksi lebih banyak untuk positif pemulihan ekonomi tetapi kami terkendala oleh permintaan yang terbatas. & tingkat pertumbuhannya juga terbatas. ”

“Peningkatan pangsa sumber energi non-karbon pada bauran energi juga akan berkontribusi pada pemulihan minyak yang lebih lambat dalam jangka panjang. ”

Sebelumnya pada Jumat, harga minyak turun lebih dari 3%. Di mana minyak mentah Brent diperdagangkan pada US$ 42, 67 per barel pada Jumat sore. Penurunan tersebut terjadi karena adanya tekanan lantaran penurunan harga saham dan kewaswasan permintaan akibat pemulihan ekonomi dengan lambat di tengah pandemi dengan sedang berlangsung.

Penurunan harga juga berlaku karena permintaan bensin domestik dengan lebih rendah dan laporan dengan menunjukkan pertumbuhan pekerjaan AS melambat pada Agustus karena dana tumpuan pemerintah mulai habis.

“Satu skenario ialah bahwa penurunan permintaan tahunan dengan keseluruhan akan menjadi sekitar 9-10 juta barel per hari, ” kata Novak. “Saya pikir ini mendekati keadaan sebenarnya, dan kami akan cenderung setuju dengan angka-angka ini. ”

“Kami memiliki kinerja kuartal kedua yang cukup buruk, situasi di bulan Juli dan Agustus sedikit membaik, dengan pasar dalam bulan Juli mencapai keseimbangan dengan keseluruhan meskipun permintaan di bulan Juli masih turun sekitar 10 juta barel per hari, ”

Namun demikian, Novak  mengatakan bahwa penurunan permintaan itu “diimbangi” oleh penurunan produksi bersejarah sejak Mei oleh aliansi negara-negara OPEC dan non-OPEC.

“Jika keseimbangan ini tetap ada, jika tren berlanjut, kita dapat berbicara tentang pemulihan bertahap dan pengurangan cadangan yang telah terakumulasi semasa kuartal kedua ‘krisis’ tahun 2020. ” paparnya.

[Gambas:Video CNBC]
(res/sef/res)